banner dakwahyu
dakwahyu.com - 11 Tips Menjemput Ridha Suami
Keluarga

11 Tips Menjemput Ridha Suami

Oleh Tika pada 02 April 2016

Suami adalah surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi keridhoan Allah. Istri yang tidak diridhoi suaminya karena tidak taat dikatakan sebagai wanita yang durhaka dan kufur nikmat. Ketaatan istri pada suami adalah jaminan surganya. Berikut adalah tips menjemput ridha suami:

1. Kenali dan hargai perasaannya

Apakah kita benar-benar mau berusaha mengenal apa saja hal yang dibencinya? Apakah kita benar-benar mau berusaha mengetahui bagaimana perasaannya jika kita melakukan suatu hal? Kamu para muslimah saleha, cobalah untuk mengenali. Cobalah untuk menghargai perasaannya, karena bisa jadi kita merasa bahwa suatu hal baik baginya dan disenangi olehnya, padalah itu hal yang tak ia sukai. Cobalah untuk berkomunikasi dengan baik dengannya tentang apa yang disukai dan tak disukainya. Cobalah untuk bertanya juga kepada ibu mertua, saudara, atau temannya. Cobalah untuk terus memperbaiki diri dari kejadian-kejadian yang sudah terjadi. Insya Allah usaha kita mengenal dan menghargai perasaan suami menjelma kebajikan yang bernilai.

2. Jaga hartanya

Sudah menjadi kewajiban suami untuk mencari nafkah bagi diri kita dan anak-anak kita. Kewajiban istri adalah mengelola keuangan keluarga. Perhatikan pengeluaran bulanan, seperti sedekah, makanan, pakaian, tempat tinggal, listrik, dan transportasi. Jangan lupakan tabungan untuk masa depan, seperti pendidikan, kesehatan, dana Qurban, haji, umrah, dan dana cadangan.

Seorang istri juta punya kewajiban untuk mengambil jalan-jalan pembelanjaan harta yang diridhai oleh Allah SWT, termasuk di dalamnya membantu kedua orangtua, menedekahkan harta untuk anak yatim dan fakir-miskin, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Yang tak kalah penting adalah menentukan mana yang merupakan kebutuhan, mana yang hanya berupa keinginan. Tentukan mana yang prioritas. Terkadang, tanpa disadari, banyak pengeluaran yang didasari keinginan, bukan kebutuhan. Bahkan, kadang belanja didasari karena besarnya diskon, atau program sale akhir tahun atau penawaran lainnya.

3. Pandai berterimakasih

Berapa pun pemberian suami, berusahalah untuk selalu berterimakasih. Walaupun kewajibannya memang menafkahi kita, berusahalah untuk selalu berterimakasih. Bukankah dia dulu tak mengenal kita dan tak punya hutang budi kepada kita, tapi karena komitmen dan cintanya, dia lalu mau menanggung hidup kita? Berterimakasihlah, Insya Allah kita akan semakin disayanginya.

4. Hidup sederhana

Sebaik apa pun kondisi ekonomi keluarga kita, hiduplah dengan sederhana. Jangan sombong dan bermewah-mewahan. Sederhanalah dalam makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kendaraan; jangan memberatkan suami dengan sesuatu yang sulit ia penuhi. Ketahuilah, teman sikap kita yang sederhana dan menerima dengan ridha pemberiannya akan membantu suami kita dalam mencari harta yang halal dan baik.

5. Menghiburnya kala sulit

“Di belakang setiap orang besar, ada seorang wanita yang hebat.”

Saat suami mengalami masalah dalam urusan kerjanya, usahanya organisasinya, atau dakwahnya maka istri yang baik akan dengan sigap menumbuhkan kepercayaan dirinya, serta mendampingi dan mendorongnya, sebagaimana ibunda Khadijah ra yang menguatkan suaminya, Muhammad saw, saat menerima wahyu untuk pertama sekali. “Allah tak akan membuatmu menjadi hina sama sekali, karena kau selalu menjalin silaturahim, menanggung beban, memberikan bantuan kepada orang yang tak punya, memuliakan tamu, dan memberikan pertolongan kepada orang yang berada di pihak yang benar.”

Seorang ulama pernah berkata, “sebaik-baik wanita yang mencintai suaminya adalah yang lebih mendahulukan ketenangan suaminya dibanding ketenangannya sendiri.”

6. Tutupi rahasianya

Jadilah orang kepercayaannya dan simpanlah rahasianya, sehingga ia dapat dengan tenang mencurahkan perasaannya tentang hal-hal yang dialaminya dan menyulitkannya. Ini mungkin terdengar kecil, tapi sesungguhnya merupakan hal besar yang dapat menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga.

7. Menguatkan dalam ketaatan

Teruslah berusaha sekuat tenaga agar kita dan suami kita melangkah maju dalam hal ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT. Jika kita mendapati dia dalam kemalasan, ajaklah dengan kasih sayang, bukan dengan bentakan. Marah dan bentakan akan membuatnya marah dan melupakan isi nasihat kita kepadanya. Mari renungkan hadits berikut ini. Betapa indah pasangan yang saling cinta dan karenanya saling menguatkan dalam ketaatan. Mereka saling membangunkan dan saling memercikkan air agar pasangannya shalat malam.

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, lalu mengerjakan shalat malam, kemudian membangunkan istrinya, lantas ia ikut shalat bersamanya. Bila si istri enggan, ia memercikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam, lalu mengerjakan shalat malam, kemudian membangunkan suaminya, lantas ia ikut shalat. Bila si suami enggan, ia memercikkan air di wajahnya.” (HR.Abu Dawud)

Jika suami sedang malas, katakanlah, “kekasihku, jika bukan karena ajakanmu yang tanpa lelah, aku tak akan terbiasa shalat malam. Ingat tidak dengan tausiyah-tausiyah yang selalu kau sampaikan saat awal kita menikah? Ingat nggak dengan malam-malam indah di akhir Ramadhan lalu saat kau mengajakku dan anak-anak beri’tikaf di masjid? Semoga Allah memberikannya limpahan kebaikan. Betapa aku gembira melihatmu bisa bergegas ketika azan di masjid dilantunkan. Kau tinggalkan semua pekerjaan dan segera memenuhi panggilan Tuhan. Semoga Allah memberi nikmat iman, Islam, dan ketaatan sampai maut menjemput kita.”

8. Memperlakukan keluarganya dengan baik

Diantara hal terbesar yang dapat membuat suami bahagia dan ridha adalah kita mencintai ibunya, menyayangi ayahnya, dan mengasihi saudara-saudarinya. Kita mesti sadar keluarganya adalah orang yang paling dekat dengannya. Apa yang membuat mereka bahagia insya Allah akan membuat suami bahagia juga.

Ingatlah bahwa mertua kita adalah orang yang berjasa merawat dan mendidik suami kita, sehingga keadaannya bisa sebaik sekarang. Kasih sayang merekalah yang telah membuat suami kita mulia akhlaknya dan penuh cinta hatinya. Sudah sepatutnya kita mencoba sekuat tenaga untuk mengenal, memahami, mencintai, dan berbakti kepada mereka berdua.

Sebagai istri yang saleha ada baiknya kita mendorong suami untuk bisa lebih baik lagi dalam berbakti kepada kedua orangtuanya. Baiknya kita mendukungnya lebih kuat lagi untuk menjalin komunikasi dan tolong-menolong dengan saudara-saudaranya. Semoga kebaikan dan perlakuan lembut kita menjadi jalan ridha Allah bagi keluarga kita.

9. Memperlakukan sebaik mungkin, bahkan saat bersedih

“Tak ada sesuatu setelah keimanan yang bisa diambil manfaatnya oleh seseorang yang lebih baik daripada wanita yang berakhlak mulia.”(HR.Al-Baihaqi)

Teman, berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk bersikap sebaik mungkin kepada suami kita. Sadarilah bahwa kehidupan suami kita tak selalu lancar dan berjalan sempurna. Kadang ia menghadapi berbagai kesulitan dan deraan masalah saat bekerja demi menghidupi keluarganya.

Dia merasakan begitu banyak kesulitan demi menjemput rezeki yang halal. Untukmu. Karenanya, tak pantaskah kita berusaha membahagiakan hatinya dengan akhlak yang santun dan ucapan yang lembut dan penuh kasih? Jangan sampaikan suatu hal, kecuali kita berharap ia bahagia, atau hatinya tentram, atau semangatnya menyala-nyala.

Mari ambil pelajaran luar biasa dari sosok shshabiyah bernama Ummu Sulaim ra. Ia memiliki kesungguhan untuk membuat suaminya, Abu Thalhah ra, bahagia. Menyambut suaminya pulang dari bepergian, Ummu Sulaim ra berusaha berhias sebaik mungkin untuk suaminya, memakai parfum yang paling wangi, senyuman yang paling manis, dan kata-kata yang sangat lembut dan menyenangkan hati.

Itu ia lakukan hingga lelah suaminya hilang, bahkan ia tak menolak saat sang suami berniat untuk mencampurinya. Padahal, Ummu Sulaim ra baru ditinggal wafat oleh putranya. Setelah suaminya tenang dan hilang lelahnya, barulah ia menceritakan musibah yang menimpa putra mereka. Contoh yang begitu luar biasa.

10. Berhias untuknya

Jika dipandang menyenangkan hati. Inilah salah satu ciri istri yang baik dan saleha. Karenanya, teruslah berbuat kebaikan untuk suami kita dengan memberikan senyum terbaik untuk suami kita dengan memberikan senyum terbaik kepadanya. Jangan anggap remeh senyuman manis untuk suami kita. Bisa jadi ridha Allah berawal dari situ.

Berhiaslah yang baik untuknya ketida di rumah. Bukan sebaliknya. Di rumah kita berpakaian seadanya, tampak kumal dan tak pernah bersolek, tapi ketika berkumpul dengan teman-teman kita bersolek sedemikian rupa. Padahal, yang berpahala adalah penampilan kita yang membuat suami kita senang saat memandang kita.

Berhiaslah dengan baik. Pakailah parfum yang paling wangi. Insya Allah ini menjadi salah satu jalan untuk membahagiakan hati suami, meringankan bebannya, dan membuatnya sedemikian mencintai kita.

11. Mengatur rumah sebaik mungkin

Betapa bahagianya suami kita memiliki istri yang pandai mengatur rumah. Ia bisa beristirahat di dalamnya setelah seharian sibuk dan lelah mencari nafkah. Matanya nyaman melihat pengaturan isi rumah yang baik. Dadanya lapang karena kita mengatur perabotan dengan seksama, sehingga suasana rumah menjadi teduh dan menyenangkan. Hatinya menjadi riang karena mendapati rumah selalu bersih dan rapi.

 

Demikian sebelas tips untuk membuat hati suami senantiasa tenang dan bahagia. Semoga para istri dan calon istri (kelak) bisa meraih surga Allah SWT berkat keridhaan suaminya. “Tiap istri yang wafat dan diridhai oleh suaminya maka ia akan masuk surga.” (HR.At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 

 

 

      

 

Komentar