banner dakwahyu
dakwahyu.com - Abu Nawas dan Tuan Tanah
Inspirasi

Abu Nawas dan Tuan Tanah

Oleh Lukman Firdaus pada 19 March 2015

Hari itu, puasa Ramadhan menjelang hari ke enam. seperti biasa, Abu nawas duduk di beranda depan gubuknya sambil menunggu bedug maghrib tiba. Sembari memandang langit biru yang mulai berwarna jingga, ia berfikir bagaimana cara dapur depan rumahnya agar tetap ngepul.
Sementara itu tak jauh dari rumahnya tinggal seorang tuan tanah yang gila harta. Rumahnya sangat megah, lengkap dengan perabotan serba luks. Hampir semua penduduk sekitar daerah tersebut, termasuk teman-teman abu nawas bekerja pada tuan tanah, bekerja keras mati-matian meski dengan hasil yang minim. Dan bila meminjam bahan makanan kepada tuan tanah itu selalu dengan bunga pengembalian yang sangat tinggi.
Suatu ketika, tuan tanah mendengar selentingan kabar dari seseorang tentang Abu Nawas yang bila meminjam sesuatu, maka bayarannya selalu lebih. katanya pinjaman itu bisa beranak pinak. Misalnya ketika seseorang meminjami seekor ayam, maka beberapa hari kemudian ia akan membayarnya lebih karena ayam itu beranak. Berita ini tentu sangat mengembirakan sang tuan tanah. bayangkan jika Abu Nawas meminjam sesuatu darinya, pasti ia akan mendapat kelebihan yang lumayan. Semakin sering Abu Nawas meminjam barangnya, maka semakin banyak pula keuntungan yang akan ia dapatkan.
untuk meyakinkan itu semua, tuan tanah memanggil salah seorang anak buahnya "oh ya tuan, Abu Nawas memang demikian. Bila ia dipinjami apa saja, maka pengembaliannya selalu berlebih dari pinjaman orang biasa. Katanya semua yang dipinjamnya selalu beranak,". Demikian jawaban anak buahnya saat tuan tanah menanyakan perihal Abu Nawas.
Semerta merta terlintas keinginan tuan tanah agar Abu Nawas lekas datang dan meminjam padanya. Dan kebetulan sore itu, Abu Nawas juga berkeinginan untuk mendatangi tuan tanah yang kikir itu. ia bermaksud meminjam 3 butir telur ayam darinya. tanpa banyak kata, tuan tanah segera saja memberikan 3 butir telur dengan suka cita. malah tuan tanah masih kembali menawarkan pinjaman lainnya. Namun Abu Nawas hanya mau pinjam sejumlah itu saja "Kapan bisa beranaknya telur itu ?" tanya tuan tanah dengan cepat. 
"Kalau itu tergantung keadaan," jawab Abu Nawas. Tuan tanah tak sabaran ingin tahu berapakah pinjaman yang akan di kembalikan nantinya. Jika benar kata orang kalau Abu Nawas selalu mengembalikan pinjaman dengan lebih, maka ia berharap agar Abu Nawas mau meminjam lagi padanya, apa saja.
Sesudah 5 hari, Abu Nawas kembali ke tuan tanah. mengembalikan pinjaman sebanyak 5 butir telur. bukan main girangnya hati sang tuan tanah karena ternyata Abu Nawas mengembalikan lebih 2 butir telur, dan tuan tanah masih menawari pinjaman lagi. Kali ini, Abu Nawas meminjam 2 buah piring tembikar tuan tanah memberikan dengan senang hati. Ia tetap berharap agar nantinya si peminjam lagi lagi mengembalikan barang pinjamannya jauh lebih banyak dan jauh lebih bagus.
5 hari berlalu. Abu Nawas kembali ke tuan tanah, mengembalikan 2 buah piring tembikar menjadi 3 buah.
kendati tidak sesuai dengan dugaannya, tetapi hati si tuan tanah tetap gembira, karena 2 piringnya yang dulu kini telah melahirkan satu anak.
"Tak apa," pikir tuan tanah, "wajar saja terkadang orangpun bisa hanya punya anak tunggal saja bahkan ada kalanya tak punya anak." sekali lagi, Abu nawas maupun tuan tanah sama sama gembira. sebab itulah Abu Nawas di pinjami uang 1000 dinar. Jumlah itu banyak sekali, gaji buat puluhan pekerja dan pegawainya dalam satu bulan.
Dan tuan tanah sudah berangan angan buat apa saja nantinya jika sudah beranak dan berapa jumlah anak anak uang pinjamannya. Tuan tanah menanti dengan hati yang tak sabar. ditunggu 5 hari, Abu Nawas belum juga datang. seminggu lewat, juga belum muncul. Bahkan hampir satu bulan, Abu Nawas tak menawarkan batang hidungnya.
Ketika tuan tanah akan mendatangi Abu Nawas bersama para centengnya, tiba-tiba datanglah Abu Nawas. mulanya tuan tanah gembira, tetapi sesudah Abu Nawas menjelaskan persoalannya, bukan main marah dan berangnya tuan tanah yang pelit itu.
"Sayang sekali tuan. Uang tuan yang saya pinjam itu bukannya beranak malah 3 hari kemudian mati mendadak."
mendengar kata-kata ini betapa geramnya tuan tanah. hampir saja Abu Nawas di hajar oleh para centengnya. Untung saja, saat itu, melintas orang orang yang baru saja selesai kerja yang kebanyakan adalah teman-teman Abu Nawas.
Segera sesudah itu, tuan tanah mengadukan Abu Nawas. Sang tuan tanah berharap agar Abu Nawas di hukum Rajam, bahkan kalo bisa segera di gantung.
Akhirnya pengadilan di gelar Abu Nawas membeberkan duduk persoalannya demikian pula si tuan tanah. Pengadilanpun memutuskan cukup rasional. kalau sesuatu bisa beranak, pasti pada suatu hari bisa mati. Karena itu, Abu Nawas dianggap tidak menipu tapi sangat berakal, sedangkan tuan tanah berdasarkan kerelaannya sendiri, bukannya di bujuk, di hasud dan di tipu. Kalau tuan tanah tertipu adalah sebab wataknya yang sangat rakus, pelit dan tamak itu. Wallau alam bisawwab.

Sumber : Buku kisah Abu Nawas

Komentar