banner dakwahyu
dakwahyu.com - Burung Yang Patah Sayapnya
Kisah

Burung Yang Patah Sayapnya

Oleh Apen pada 07 April 2016

Suatu ketika Ibrahim bin Adham bertemu dengan Syqiq Al-Balkhi di Mekah. Dalam kesempatan tersebut Ibrahim bin Adham bertanya kepada Syaqiq:

"Peristiwa apakah yang membuatmu mencapai kedudukan seperti ini? "

"Suatu hari di padang sahara, kulihat seekor burung tergeletak tidak berdaya dengan kedua sayapnya yang patah. Dalam hati ku bertanya, burung ini hingga ia masih dapat bertahan hidup di tengah padang sahara yang gersang ini.

Saat aku duduk memperhatikan burung itu, tiba-tiba tampak seekor burung terbang mendekat dengan membawa seekor belalang di paruhnya. Burung itu mendarat di sampingnya dan meletakkan belalang tersebut di paruhnya. Saat itu juga kukatakan kepada diriku:

"Duhai diri, ketahuilah, DIA yang mengirimkan burung ini ke tengah padang sahara hanya untuk memberi makanan kepada burung yang sayapnya patah tersebut, tentu Maha Kuasa untuk memberimu rezeki dimanapun engkau berada"

Sejak itulah kuputuskan untuk tidak lagi bekerja, kusibukkan diriku dengan berbagai ibadah, jawab Syaqiq

"Mengapa engkau tidak memilih untuk menjadi burung yang sehat, yang memberi makan kepada yang sakit sehingga engkau menjadi lebih utama darinya ?" tanya Ibrahim bin Adham

Lanjut Ibrahim bin Adham, "Apakah engkau belum pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda :

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدُ السُفْلَ

"Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah." (HR Bukhari dan Muslim).

Seoran mukmin dalam segala urusannya, ketika dihadapkan kepada dua pilihan, maka ia akan memilih kedudukan yang tertinggi dari keduanya, sehingga ia dapat mencapai derajat kaum Abrar."

Mendengar ucapan Ibrahim bin Adham, Syaqiq pun segera memegang telapak tangan beliau dan menciumnya sembari berkata, "Engkau adalah guruku".

Hikmah Di Balik Kisah

Dalam kehidupan ini hendaknya kita selalu berusaha untuk menjadi manusia yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Semakin banyak manfaat yang kita mampu berikan dan semakin banyak orang yang dapat mengambil manfaat dari kita, maka semakin baik pula diri kita dalam pandangan Allah. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Manusia terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain." (HR. Qadha'i)

Memberi dan menerima nasihat dengan tulus dan lapang dada tidaklah mudah. Kendati yang dilakukan Syaqiq tidaklah tercela, karena beliau tidak memiliki tanggung jawab kepada keluarga, dapat bersabar serta tidak berkeluh kesah, akan tetapi ketika mendapatkan petunjuk yang mengajarkannya untuk memilih sikap yang lebih mulia, beliau dengan senang hati menerima nasihat itu dan tidak sedikitpun tersinggung karenanya. Beliau bahkan mencium tangan Ibrahim bin Adham dan memanggilnya sebagai guru.

Sumber : Al-'Aydarus, Novel. 2011. Akhlak Para Wali. Surabaya: Toko Buku Cahaya Ilmu

Komentar