banner dakwahyu
dakwahyu.com - Hak Hak Yang Sesuai Dengan Fitrah dan Syariat Bag. 2
Muamalah

Hak Hak Yang Sesuai Dengan Fitrah dan Syariat Bag. 2

Oleh Administrator pada 29 August 2016

Pada artikel sebelumnya kita telah mengetahui 5 dari 10 penjabaran singkat tentang hak-hak yang sesuai dengan fitrah syariat, sekarang penulis akan menjabar kan 5 sisanya.
Hak ke 6 : Hak Suami Istri
Pernikahan memiliki dampak dan konsekuensi yang sangat besar, dia merupakan ikatan suami istri yang menuntut setiap mereka untuk memenuhi hak-hak pasangannya, baik hak fisik, hak sosial dan hak harta.
    Maka wajib bagi pasangan suami istri untuk memperlakukan pasangannya dengan baik (ma'ruf) dan memenuhi haknya yang merupakan kewajibannya dengan penuh keikhlasan dan kemudahan tidak dengan perasaan berat dan ditunda-tunda. Allah Swt Berfirman :
    "Dan pergaulilah mereka (istri-istri) dengan cara yang ma'ruf" (An-Nisa : 19).
    "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada istrinya' (Al-Baqarah: 228)
Bagi seorang istri wajib baginya untuk memenuhi segala hak suaminya yang merupakan kewajiban bagi dirinya. Jika setiap pasangan suami istri melakukan segala kewajibannnya masing-masing maka kehidupan mereka akan bahagia dan rumah tangganya akan tetap harmonis dan jika yang terjadi sebaliknya maka akan timbul berbagai macam pertikaian dan kehidupan mereka menjadi tidak harmonis.
Terdapat banyak nash yang menganjurkan kita untuk berbuat baik terhadap istri dan memperhatikan keadaannya. Mengharapkan kesempurnaan tanpa cacat dalam dirinya adalah sebuah kemustahilan.
    “ Janganlah seorang mu’min membenci seorang mu’minah (istrinya), jika ada sesuatu yang tidak disukainya pada dirinya bias jadi masih banyak hal lainnya yang disukainya.” (Hr. Muslim).
A.    Hak istri atas suaminya
Kewajiban seorang suami atas hak istrinya adalah mebunaikan segala kebutuhannya, termasuk memberikan nafkah, seperti dalam firman Allah ta’ala:
“dan kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada ibu dengan cara yang ma’ruf”
(Al Baqarah: 233).
Dalam salah satu hadist Rasul bersabda :
“kamu memberinya makan apa yang kamu makan, kamu memberinya pakaian apa yang kamu kenakan, jangan memukul wajah dan mencacinya dan jangan mengasingkannya kecuali di dalam rumah”. (hadist Hasan riwayat Ahmad, Abu daud, dan Ibnu Majah).
Termasuk hak istri adalah berlaku adil di antara mereka jika memiliki istri lebih dari satu, baik dalam sandang, pangan dan papan dan segala sesuatu yang dituntut baginya untuk berlaku adil. Jika hanya memperhatikan sebagiannya maka hal tersebut merupakan dosa besar, Rasulullah Saw Bersabda :
“Siapa yang memiliki dua istri kemudian hanya memperhatikan salah seorang di antara mereka , maka dia akan dating pada hari kiamat dalam keadaan miring”. (Hr. Ahmad dan Ahlussunan dengan sanad shahih).
Adapun  dalam masalah yang anda tidak mungkin untuk berlaku adil seperti rasa cinta dan kelapangan dada, hal tersebut bukanlah merupakan dosa karena hal tersebut diluar kemampuannya. Allah Swt berfirman : “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian”. (An Nisa: 129).
 Rasulullah Saw telah berlaku adil terhadap para isterinya lalu bersabda :
“Ya Allah inilah pembagian yangd apat aku lakukan dan jangan engkau cela aku yanga da engkau miliki apa yang tidak aku miliki”. (Hr. Penyusun kitab sunan yang empat).
Akan tetapi jika ada seorang suami menggunakan jatah salah seorang istrinya untuk menginap lalu digunakan untuk istrinya yang lain tidaklah mengapa jika istri yang pertama merelakannya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw, yaitu ketika dia menggunakan jatah istri yangpertama merelakannya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw, yaitu ketika dia menggunakan jatah istrinya saudah untuk Aisyah karena saudah memberikannya untuk Aisyah (Hadist aisyah muttafaq alaih). Dan ketika raslullah Saw sakit pada akhir-akhir kehidupannya dia selalu bertanya-tanya: dimana (giliran) saya besok, dimana (giliran) saya besok, maka para istrinya mngizinkannya untuk tinggal dimana saja dia suka dan dia memilih untuk tinggal di rumah Aisyah hingga meninggal.”(HR. Bukhari dan Muslim).

B.    Hak suami atas istrinya
Adapun hak suami atas istrinya adalah lebih besar, seperti yang tertuang dalam firman Allah Swt : “ Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada istrinya” (Al-Baqarah, 228).
“kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (Laki-Laki) atas sebagian yang lain (wanita), dank arena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagaian dari harta mereka.”(An-Nisa: 34).
Termasuk hak-hak suami atas istrinya adalah mentaatinya dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah serta menjaga rahasia dan hartanya, Rasulullah Saw bersabda :
“seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seseorang niscaya aku akan memerintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya. “(Hr. Turmuzi dan dia berkata:” Hadist ini hasan”).
Termasuk hak suami atas istrinya adalah tidak melakukan perbuatan yang dapat mengurangi kesempatan bagi suaminya untuk bersenang-senang terhadapnya walaupun hal tersebut berupa perbuatan sunnah dalam ibadah.
“tidak diperbolehkan bagi seorang istri untuk berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya dan tidak boleh seorang istri mengizinkan seseorang (masuk) ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya.”(HR. Bukhari).
Rasulullah saw telah menjadikan keridhaan suami atas istrinya sebagai syarat bagi istrinya untuk masuk syurga, At-Turmuzi meriwayatkan hadist Ummu Salamah Radiallahuanha bahwa Rasulullah Saw Bersabda :
“ Seorang istri yang meninggal sementara suaminya meridhainya niscaya dia akan masuk surge.” (Hr. Ibnu Majah dan Tirmizi dan dia berkata bahwa hadist ini hasan gharib).

Hak ke 7 : Hak Pemimpin dan Rakyatnya
Yang dimaksud pemimpin adalah yang mengatur semua perkara kaum muslimin, baik kepemimpinannya bersifat umum seperti kepala Negara tertentu atau dalam pekerjaan tertentu, setiap mereka memiliki hak yang wajib di penuhi oleh rakyatnya dan rakyatnya juga memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh pemimpinnya.
Hak rakyat yang menjadi kewajiban pemimpinnya adalah menunaikan amanah yang Allah bebankan kepada mereka dan wajib memberikan pengarahan kepada rakyatnya serta berjalan di atas peraturan-peraturan yang lurus yang menjamin kemaslahatan dunia dan akhirat. Adapun hak para pemimpin yang menjadi kewajiban rakyatnya adalah memberikan nasihat atas kepempinan mereka atas berbagai urusan rakyatnya serta memberikan peringatan jika mereka melakukan kelalaian dan mendoakan mereka jika mereka mulai berpaling dari kebenaran. Melaksanakan segala perintah mereka jika di dalamnya tidak terdapat maksiat kepada Allah.
 “wahai orang-orang yang berinman taatlah kalian kepada Allah dan ta’atlah kalian kepada Rasul dan pemimpin diantara kalian”. QS. An-Nisa :59
Hak Ke 8 : Hak Tetangga
Tetangga adalah orang yang tinggal dekat rumah anda, baginya terdapat hak yang banyak. Jika dia sanak saudara anda dan muslim maka baginya ada 3 hak : hak tetangga, hak kekerabatan dan hak islam, adapun jika dia termasuk sanak saudara namun bukan muslim maka baginya 2 hak :
Hak tetangga dan hak kekerabatan, dan jika dia bukan sanak saudara dan bukan juga seorang muslim maka baginya satu hak : hak tetangga (berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh abu Bakar Al Bazzar dari jalur Hasan dari Jabir bin Abdullah, Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir surat An Nisa ayat 36).
“dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (An Nisa: 36)
Rasulullah Saw bersabda : “(malaikat) jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga hingga aku mengira bahwa tetangga mendapat warisan (tetangga lain)-nya” (muttafaq alaih).
Diantara hak-hak tetangga terhadap tetangganya adalah berlaku baik kepadanya sesuai dengan kesanggupannya, baik berupa harta, kehormatan dan manfaat,  Rasulullah Saw bersabda :
“Sebaik-baik tetangga disisi Allah adalah yang paling baik terhadap tetangganya. “ (Hr. Turmuzi dan dia berkata hadist ini hasan gharib).
Dalam hadist lain beliau bersabda :
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berllaku baik terhadap tetanggamu.” (Hr. Muslim).
Termasuk di dalam hak tetangga adalah dengan menjaga perkataan kita agar tidak menyinggung  perasaannya.
“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman”, mereka bertanya “Siapa ya Rasulullah? Beliau bersabda : “Yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya”- dalam Riwayat yang lainnya “Tidak masuk syurga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.”(HR. Bukhari).
Kenyataannya zaman sekarang banyak yang tidak memperhatikan hak tetangganya tidak aman dari keburukannya. Tidak jarang ada percekcokan dan sengketa serta pelecehan terhadap hak-haknya. Dan semua itu bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah ta’ala dan Rasulnya dan dapat menyebabkan perpecahan serta ketidak harmonisan di kalangan muslimin dan hilangnya penghormatan di antara mereka satu sama lain.
Hak ke 9 : Hak Kaum Muslimin Secara Umum
Hak dalam masalah ini banyak sekali, diantaranya adalah apa yang disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah Saw bersabda :
“hak seorang muslim atas muslim lainnya ada 6 : Jika engkau menemuinya maka berilah salam, dan jika dia mengundangmu maka penuhilah, jika dia minta nasihat kepadamu berilah nasihat, jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah (dengan doa “yar hamukallah”), jika dia sakit maka kunjungilah dan jika dia meninggal maka antarkanlah (ke kuburan).” (HR> Muslim).
Dalam hadist lain terdapat juga hak hak kaum muslimin :
•    Hak ke 1 : Mengucapkan Salam
Sunnahnya adalah yang kecil memberikan salam kepada yang besar, yang sedikit memberi salam kepada yang banyak, yang berkendaraan memberi salam kepada pejalan kaki, akan tetapi jika yang lebih utama tidak memberikan salam maka yang lainnya hendaklah memberikan salam agar sunnahnya tidak hilang. Ammar bin Yasir RA berkata: “Ada 3 hal yang jika ketiganya diraih maka sempurnalah iman seseorang : Jujur(dalam menilai) dirinya, memberi salam kepada khalayak dan berinfaq saat kesulitan”. (HR. Muslim).
•    Hak ke 2 :  Memenuhi undangan
Misalnya, seseorang mengundang anda untuk makan-makan atau lainnya maka penuhilah dan memenuhi undangan adalah sunah mu’akkah dan hal itu dapat menarik hati orang yang mengundang serta mendatangkan rasa cinta dan kasih saying. Dikecualikan dari hal tersebut adalah undangan perkawinan. “Siapa yang tidak memenuhi (undangan) maka dia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-nya”. (Hr. bukhari Dan Muslim).

•    Hak ke 3: Jika dia meminta nasihat maka penuhilah.
Yaitu: jika seseorang dating meminta nasihat kepadamu dalam suatu masalah maka nasihatilah karena hal itu termasuk agama sebagaimana hadiits Rasulullah saw : “Agama adalah nasihat: Kepada allah, Kitabnya, rauslnya dan kepada para pemimpin kaum muslimin serta rakyat pada umumnya’.(Hr. Muslim). Adapun jika seseorang datang kepadamu tidak untuk meminta nasihat namun pada dirinya terdapat bahaya atau perbuatan dosa yang akan dilakukannya maka wajib menasihatinya walaupun perbuatan tersebut tidak diarahkan kepadanya, karena hal tersebut termasuk menghilangkan bahaya dan kemungkaran dari kaum muslimin.

•    Hak ke 4 : Jika dia bersin lalu mengucapkan “Al hamdulillah” maka jawablah dengan ucapan: “Yarhamukallah”. Sebagai rasa syukur kepadanya, namun jika Ia bersin namun tidak mengucapkan hamdalah maka ia tidak berhak untuk diberikan ucapan tersebut, dan itulah balasan bagi orang bersin yang tidak mengucapkan hamdalah.

•    Hak ke 5 : Membesuknya jika dia sakit.
Hal ini merupakan hak orang sakit dan kewajiban saudaranya yang seiman, apalagi jika yang sakit memiliki kekerabatan, teman dan tetangga maka membesuknya merupakan sangat di anjurkan.

•    Hak ke 6 : Mengantarkan jenazahnhya ketika ia meninggal.
Hal ini juga merupakan hak seorang muslim dan didalamnya terdapat pahala yang besar. Terdapat riwayat dari Rasulullah Saw : “Siapa yang mengantarkan Jenazah hingga menshalatkannya hingga dimakamkan maka baginya pahala dua Qhirath”, beliau ditanya : “Apakah yang dimaksud Qhirath? Beliau menjawab : “bagaikan dua gunung yang besar”. (Hr. Bukhari dan Muslim).

•    Hak ke 7 : Hak tidak menyakiti saudaranya
Menyakiti kaum muslimin adalah dosa yang sangat besar. Allah Berfirman :
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. “ (Al-Ahzab: 58).
Pada umumnya jika seseorang menyakiti saudaranya maka akan di balas di dunia sebelum di akhirat kelak. “Janganlah kalian saling membenci dan saling membelakangi, tapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara bagi saudara muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya, tidak menelantarkannya dan tidak menghinanya. Cukup bagi seseorang dikatakan (berperangai) buruk jika dia menghina saudaranya. Setiap muslim atas muslim yang lainnya diharamkan; darahnya, hartanya dan kehormatannya”. (Hr. Muslim).
Hak hak muslim di atas saudaranya yang muslim banyak sekali, akan tetapi kita dapat menyimpulkan semua itu dalam sebuah hadits Rasulullah Saw : “ Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya”.

Hak ke 10 : Hak Non Muslim
Non muslim mencakup semua orang kafir, mereka terbagi menjadi 4 bagian : Harbi (Kafir yang memerangi kaum muslimin), musta’min (kafir yang meminta perlindungan kepada kaum muslimin), mu’ahid (kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin) dan dzimmi (kafir yang berada dibawah kekuasaan dan perlindungan kaum muslimin).
Terhadap kafir Harbi maka kaum muslimin tidak memiliki kewajiban atas mereka, baik berupa perlindungan ataupun pengawasan.
Terhadap kafir musta’min maka kaum muslim wajib melindungi mereka pada waktu dan tempat yang telah ditentukan untuk memberikan keamanan kepada mereka. Berdasarkan firman Allah ta’ala :
“dan jika seorang diantara orang-orang musrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. “ (AT Taubah: 6).
Terhadap kafir mu’ahid maka kita wajib melaksanakan perjanjian yang telah kita sepakati kepada mereka selama mereka juga konsisten kepada kita dalam perjanjian tersebut, tidak menbguranginya dan tidak membantu seorangpun dalam mencelakakan kita dan tidak melecehkan agama kita, berdasarkan firman Allah ta’ala :
“kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu ddan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. “(At-Taubah:4).
“jika mereka merusak sumpah (janjinya) sesudah mereka berjanji, dan mencerca agamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya. “ (At Taubah: 12).
Adapun terhadap orang-orang dzimmi maka mereka adalah merupakan golongan yang paling banyak hak dan kewajibannya. Hal tersebut karena mereka hidup di negri kaum muslimin dan di bawah perlindungan dan pengawasannya sesuai dengan jizyah (upeti) yang mereka bayar.
Wajib bagi pemerintahan muslim untuk memerintah mereka dengan hokum islam baik dalam urusan jiwanya, hartanya dan kehormatannya juga (wajib) dilaksanakan hudud atas mereka yang melakukan tindak kriminalitas. Wajib pula melindungi mereka serta menjauhkan perbuatan yang menyakiti mereka.
Juga wajib bagi mereka menampakan syi’ar-syi’ar agama mereka seperti lonceng atau salib.
  Itulah bagian ke dua dari pembahasan hak-hak yang sesuai dengan fitrah dan syariat , dari 10 penjabaran di atas (ditambah artikel bag-pertama) wajib bagi kita untuk mempelajari dan mengetahuinya agar dapat di aplikasikan dalam berkehidupan sehari-hari sebagai umat islam.
Mengerjakan hak-hak ini merupakan salah satu sebab tumbuhnya kecintaan antara kaum muslimin serta dapat menghilangkan permusuhan dan pertikaian di antara mereka sebagaimana perbuatan-perbuatan tersebut dapat menjadi sebab terhapusnya keburukan dan berlipat gandanya kebaikan serta terangkatnya derajat. Semoga Allah Swt memberikan taufiq dan hidayah bagi kaum muslimin untuk mengamalkannya.
Wassalamua’alaikum Warahmatullahi Wa barakatuh.
Sumber : Di rangkum dari buku “Hak-hak yang sesuai dengan fitrah dan syariat” karya Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin”. Penerjemah : Abdullah Haidir.
    

 

Komentar