banner dakwahyu
dakwahyu.com - Irfan Sembiring, Pionir Thrash Metal yang Kini Jadi Ahli Ibadah
Berita

Irfan Sembiring, Pionir Thrash Metal yang Kini Jadi Ahli Ibadah

Oleh Siti Sadiah pada 01 December 2014

Siapa yang menyangka Irfan Sembiring, seorang pionir thrash metal sekaligus pendiri band Rotor yang sangat disegani di era 90-an kini lebih banyak menghabiskan hidupnya untuk ibadah dan mengajak orang-orang kepada kebaikan.

Dulu pada saat masih aktif di scene metal Irfan adalah salah satu yang mengantarkan Rotor sebagai band thrash metal Indonesia yang pertama kali masuk dapur rekaman padahal saat itu merekam lagu tidak semudah dan semurah sekarang.

Sebelum Rotor berdiri, pada akhir era 80-an, Irfan sempat bermain di Sucker Head, yang juga mengusung thrash metal. Rotor sendiri di bentuk tahun 1992 setelah Irfan merasa konsep musik Sucker Head masih kurang ekstrem baginya. Nama Rotor digunakan karena sesuai dengan musik yang dimainkannya, yaitu cepat bak baling-baling pesawat.

Sebelum memiliki album, dan memainkan lagu sendiri, Rotor masih suka meng-cover lagu-lagu Sepultura, dedengkot metal asal Brazil. Judapran kemudian bergabung dengan Rotor, setelah ditinggal dua personil sebelumnya. Bersama Juda (Bass) dan Bakkar Bufthaim (Drums), Irfan menggarap rekaman live di studio One Feel dengan teknik merekam yang masih tradisional: hanya dengan dua track, left-right, yang isinya gitar dan drum, tanpa vocalnya. Dengan bermodal kaset demo itulah, Irfan menyodorkan konsep musiknya ke label-label rekaman besar. Dan tahukah hasilnya? tentu saja gagal!

Musik yang dimainkan Rotor masih dianggap ekstra-ekstrim zaman itu. Makanya perusahaan rekaman besar belum melihat potensi pasarnya.

Namun itu semua hanyalah masa lalu bagi Irfan Sembiring. Kini, seluruh waktunya digunakan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Baginya, masjid adalah rumah, sehari-hari Irfan berada di rumah Allah tersebut meski bukan pada waktu-waktu sholat.

Kalau tidak sedang berkeliling dunia untuk berdakwah, di Jakarta, ia biasa ‘nongkrong’ di Masjid Imam Bonjol, atau Masjid Al-Ittihad di dekat Cinere Mall.

“Orang Islam itu kalo di Masjid ibarat ikan dalam air,” ujarnya.

Kerjaannya kalau nggak Ibadah, dzikir qalbi, dakwah, dan nongkrong. Kalau nongkrong pun obrolannya nggak bakal jauh dari keagungan Allah, meski sesekali diselingi dengan ngobrol musik, terutama musik rock.

Kisah hijrah Irfan adalah inspirasi positif buat diri kita. Kita tidak pernah tahu kapan kita mengakhiri hidup kita. Alangkah indah kalau kita mengakhiri hidup dalam kondisi sudah siap dengan bekal akhirat yang cukup.

Sumber: Islampos

Komentar