banner dakwahyu
dakwahyu.com - Jalan Menuju Keimanan
Aqidah

Jalan Menuju Keimanan

Oleh Nisa pada 31 July 2016

Salah satu ciri khas yang dimiliki manusia, yang membuat ia berbeda dengan makhluk lainnya adalah Akal. Manusia memiliki akal yang dengannya kita dapat memutuskan suatu keputusan mengenai hal – hal yang terdapat dalam kehidupannya. Akal berbeda dengan otak, karena jika akal disebut dengan otak, maka binatang pun mempunyai akal, padahal pada kenyataannya binatang tidak memiliki akal, ia dibelaki insting oleh pencipta sebagai bekal untuk memilih dan menentukan.

Akal merupakan, kemampuan berfikir dalam menghubungkan fakta yang terindera dengan informasi sebelumnya di dalam otak. Setelah mendefinisikan tentang akal, maka sesuatu dapat dikatakan fakta yang benar apabila sesuai dengan kejadian yang ada dan didukung dengan bukti. Maka hal tersebut dapat disebut dengan ilmu aqli.

            Fungsi akal dalam islam terbagi menjadi 5, yaitu :

  1. Pembangun dasar keimanan.
  2. Penguji kebenaran dalil sumber hukum islam.
  3. Untuk memahami makna dalil sesuai dengan indikasi ilmiah.
  4. Mengontrol perasaan(setelah memahami tentang islam) agar menjadikan nya menjadi kepribadian.
  5. Mencari alternatif / cara yang tepat agar dapat mewujudkan pelaksanaan hukum hukum syara.

Sebagaimana dibahas dalam fungsi akal diatas, dikatakan bahwa fungsi akal nomor 1 adalah sebagai pembangun dasar keimanan, itu arti nya, iman kita itu dibangun oleh akal, tidak hanya dari keturunan. Selanjutnya mari kita bahas lebih dalam mengenai keimanan.

Iman artinya percaya, yakni pembenaran secara pasti berdasarkan fakta yang didasari bukti – bukti. Telah dikatakan sebelumnya bahwa sesuatu dapat dikatakan menjadi fakta atau kebenaran umum apabila sesuai dengan kejadian (fakta yang terindera) dengan didasari bukti yang kuat. Apabila keimanan kita telah berdasarkan demikian, maka orang lain tidak dapat mematahkan aqidah kita.

Dasar keimanan kita haruslah berdasarkan aqliyah atau tidak ‘katanya’ tetapi, harus berdasarkan kesimpulan akal kita sendiri. Jalan menuju iman itu sendiri, ada yang dengan cara yang benar yaitu dengan berfikir cemerlang, menggunakan kemampuan akal nya dan dikuatkan dengan dalil – dalil. Dan ada juga yang dengan cara yang salah, yaitu tidak menggunakan akal nya untuk berfikir. Maka resiko dari cara yang salah ini adalah keimanan nya akan mudah goyah dan sering ragu – ragu, selain itu resiko dari keimanan dengan cara yang salah adalah keimanannya pun salah. Berpikir cemerlang berbeda dengan berpikir tingkat tinggi, karena berpikir tingkat tinggi adalah berpikir tentang objek yang bersangkutan sebanyak – banyak nya. Sedangkan berpikir cemerlang ialah berpikir dengan informasi – informasi mengenai objek yang bersangkutan sebanyak – banyak nya, berpikir tentang informasi segala hal yang berkaitan dengan objek, dan juga berpikir tentang objek sekitar yang berhubungan atau yang sejenis dengan objek yang bersangkutan. Tentu berpikir cemerlang lebih kompleks dibanding berpikir tingkat tinggi.

Untuk menuju jalan keimanan pun kita perlu mengetahui mengenai dalil, dalil terbagi menjadi dua, yaitu dalil aqli dan dalil naqli. Dalil aqli adalah dalil yang didapat melalui kesimpulan sendiri menggunakan akal yang dilakukan dengan cara berpikir cemerlang terhadap fakta yang ada, peranan akal adalah memutuskan dan menyimpulkan mengenai fakta dan kebenaran dall aqli ini harus mempunyai bukti yang terindera. Sedangkan dalil naqli yaitu dalil yang didapat melalui mengutip / mendengar berita dan menerima begitu saja informasi yang diterimanya tanpa peranan akal karena objek berita tidak dapat disimpulkan akal, kebenaran ini harus berdasarkan sumber yang otentik, dan keotentikan nya dibuktikan oleh akal berdasarkan fakta/bukti nyata.

Kembali kepada topic mengenai tuhan, tuhan pencipta alam semesta itu ada, dan bersifat azali. Kalimat ada itu sendiri, bisa memunculkan 2 kemungkinan, yaitu Ada dari yang tiada, dan Ada dari yang tidak ada, dari Ada yang tidak ada pun, terdapat dua kemungkinan pula, yaitu ada karena mencipta diri sendiri, atau ada karena dicipta oleh yang lain. berikut adalah gambaran nya.

Dengan menggunakan akal, yaitu kemampuan berfikir dalam mengaitkan fakta yang terindera dengan informasi sebelumnya di dalam otak, maka kita dapat mengindera alam semesta ini.

Dengan mengindera fakta yang ada, yaitu alam semesta ini, terlihat bahwa alam begitu teratur, indah, rapi, tetapi alam itu terbatas, yaitu tidak bisa mengatur diri nya sendiri, ketika terjadi bencana, alam tidak dapat menlolaknya dan mempertahankan keindahan nya, itu arti nya, pasti Ada Pencipta yang mengatur semua ini. Artinya tidak mungkin alam itu menciptakan dirinya sendiri, karena sudah pasti alam ada yang menciptakan atau dicipta yang lain, maka yang lain itu lah tuhan sebenar nya.

Selanjutnya ke pembahasan bahwa tuhan ada, dari tidak, dan mencipta diri sendiri. Mencipta diri sendiri, itu artinya Pencipta, sekaligus Hasil Ciptaan. Itu artinya, Luar biasa (karena sang pencipta), akan tetapi sekaligus Lemah(karena hasil ciptaan). Jika demikian, artinya berkumpulnya dua sifat yang bertentangan pada waktu yang bersamaan, dan itu mustahil ada.

Setelah membahas dua kemungkinan diatas, itu artinya tidak mungkin ada tuhan dari tidak ada , yang mencipta diri maupun dicipta yang lain.

Maka peluang terakhir adalah tuhan itu ada, dan dari ada, yang bersifat azali (ada, tidak pernah tidak ada). Karena sifat Sang Pencipta haruslah tidak terbatas, tidak pernah tidak ada, bukan hasil ciptaan baik diri ciptaan sendiri maupun ciptaan yang lain. dari kriteria sifat yang mesti ada dari Sang Pencipta, maka hanya Allah SWT lah yang mutlak memenuhi syarat dari sifat Sang Pencipta tersebut.

Komentar