banner dakwahyu
dakwahyu.com - Jalan Menuju Keimanan (2)
Aqidah

Jalan Menuju Keimanan (2)

Oleh Nisa pada 31 July 2016

Setelah menyakini dengan sepenuh hati didasari bukti yang nyata bahwa Pencipta alam semesta adalah Allah SWT, maka yang menjadi pembahasan selanjut nya adalah mengenai wahyu al Khaliq bagi ummat nya di dunia.

Agama di dunia ini terbagi menjadi dua, yaitu :

  1. Agama Samawi : agama yang memiliki konsep wahyu / kalam / perkataan tuhan.
  2. Agama Ardhi : agama yang tidak berdasarkan wahyu sang pencipta, melainkan berdasarkan kecerdasan dan kebijaksanaan seseorang yang dijadikan tokoh.

 

Manusia harus dituntun wahyu al Khaliq karena masalah manusia sangatlah kompleks sedangkan akal manusia pun terbatas. Namun, teks wahyu disini pun tidak boleh berubah ataupun diubah – ubah, haruslah asli dan otentik. Teks wahyu yang dari sejak zaman diturunkan nya hingga saat ini masih asli dan otentik, serta terbukti kebenarannya adalah Al – Qur’an. Berikut adalah bukti bahwa Al Qur’an itu asli dan tidak berubah adalah sebagai berikut :

Khabar / berita yang meyakinkan di dapat dari dua cara, yakni dengan mengindera langsung, dan dari periwayatan yang mutawatir. Pengertian mutawatir sendiri adalah periwayatan yang disampaikan oleh banyak orang yang mustahil mereka semua berkumpul untuk sepakat berdusta.

Al qur’an dikatakan mutawatir disini di lihat dari dua jalur, yaitu jalur hafalan, dan jalur tulisan. Baik dari jalur hafalan maupun tulisan, al qur’an sama di seluruh dunia, dan tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. Di lihat dari jalur hafalan, seluruh hafalan, sejak zaman rasulullah Muhammad saw sudah banyak yang hafal keseluruhan al qur’an 30 juz, tidak ada hafalan yang berbeda, hanya metode yang digunakan saat melantunkannya saja yang berbeda. Untuk kemutawatiran berdasarkan tulisan, seluruh isi al qur’an sudah ditulis sejak zaman rasululah saw, namun, belum ada alat tulis lengkap sehingga penyimpanannya pun belum maksimal. Namun, di zaman Abu Bakar, smeua tulisan al qur’an dikumpulkan sampai 30 juz dan selesai di zaman pemerintahan utsman. Berikut sejarahnya.

SEJARAH AL – QUR’AN

  1. Di masa Nabi Muhammad saw (Kenabian : 610 – 632 M)

Saat itu al qur’an dihafal langsung oleh beliau dan para sahabat. Al qur’an sering dibaca saat sholat jamaah, dan dicek oleh malaikat Jibril sekali tiap romadhon, ketika rasul wafat, al qur’an di cek 2 kali saat ramadhan. Tidak ada perselisihan mengenai al – qur’an saat zaman rasul. Dan pada zaman rasul, al qur’an ditulis di pelepah kurma, batu tipis, kulit hewan dan sebagainya yang ditulis oleh penulis beliau, yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, Ubay bin Kaab yang di tulis langsung di depan beliau.

  1. Di masa Abu Bakr(Memerintah 632 – 634 M)

Saat perang menghadapi orang yang murtad setpeninggalan rasul, banyak penghafal al qur’an 30 juz yang syahid fi sabilillah. Hal tersebut membuat umar khawatir tiada lagi media yang menampung keseluruhan al qur’an, maka umar mengusulkan agar tulisan al qur’an dikumpulkan dalam satu tempat. Pengumpulan ini masih sangat mungkin terjadi karena orang – orang di masa abu bakr mash sama da gampang ditemui, maka diketuai oleh Zaid bin Tsabit, penulis rasul sendiri dan dikumpulan dalam satu mushaf yang disebut dengan mushaf abu bakr yang disimpan di Hafsah ( istri rasulullah dan anak umar ra). Pada masa pemerintahan abu bakr, al qur’an belum terkumpulkan 30 juz keseluruhan, maka, dilanjutkan saat masa pemerintahan umar hingga selesai 30 juz.

  1. Di masa Utsman bin Affan(Memerintah 644 – 656 M)

Wilayah pemerintahan islam semakin luas, orang yang bukan asli arab berbondong – bondong masuk islam. Pada saat itu terkadang terjadi perbedaan hafalan, kemudian mereka berselisih pendapat sedangkan untuk melihat mushaf standar teramat jauh yakni di madinah (Hafshah). Maka Utsman menyalin mushaf dari Hafshah menjadi 7 buah yang di sebar ke kota – kota besar, yakni Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bahrah, Kufah dan satu lagi disimpan di madinah (Mushaf Al – Imam). Mushaf – mushaf tersebut disebut sebagai mushaf Utsmani yang kita kenal sampai saat ini.

            Sehingga, kesimpulannya adalah Al Qur’an terbukti asli karena riwayatnya mutawatir, sehingga apabila al Qur’an dibaca dan dihafal akan sama dengan al Qur’an yang dibaca dan dihafal pada zaman rasul saw.

Komentar