banner dakwahyu
dakwahyu.com - Kandungan Surat An-naas (1)
Islami

Kandungan Surat An-naas (1)

Oleh Lukman Firdaus pada 27 March 2015

Al Baihaqi di dalam kitab Dailun Nubuwwah meriwayatkan hadist dari Al Kabi dari Abu Shalih dengan sanad Ibnu Abbas, dikatakan bahwa: Rasulullah SAW. Pernah sakit yang cukup parah. Dua malaikat membesuknya, yang satu duduk di sebelah kepala beliau dan yang lain duduk sebelah kaki beliau. Malaikat yang duduk sebelah kaki beliau berkata kepada malaikat yang duduk di sebelah kepala: "Apa yang kau lihat ?". Ia menjawab: "Dia terkena guna-guna". "Apa guna-guna itu?". "Guna-guna itu berupa sihir". "Siapa yang menebar sihir.". "Labib bin Al Asham Al Yahudi". Sihirnya berupa gulungan yang di sembunyikan di sumur keluarga si anu di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkatlah batunya, setelah itu ambil gulungan tersebut dan bakarlah.

Pagi harinya Rasulullah SAW. mengutus Ammar Bin Yasir dan beberapa sahabat untuk menuju sumur yang dimaksud. Sesampainya di sumur tersebut nampak merah bagaikan air pacar. Air sumur itu di kuras batunya diangkat dan gulungan didapat kemudian dibakar. Ternyata di dalam gulungan terdapat tali yang terdiri dari sebelas simpul.

Dijelaskan bahwa surat An-nas dan Al-Falaq(yakni surat ke 113 dan 114) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut. Maka Rasulullah SAW. membaca surat itu, dan setiap kali beliau membaca satu ayat, terbukalah simpul tersebut.

Inti kandungan Surat An-naas.

Persoalan pokok yang terkandung di dalam surat An-naas adalah, perintah kepada manusia agar berlindung diri kepada Allah SWT. dari segala ancaman yang ditimbulkan baik oleh jin maupun dari manusia. Hal itu suatu perintah mendasar yang sangat logis yang sesuai dengan khodrat manusia kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri.

Tafsir Ayat

Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan(nya) manusia.

perintah supaya berlindung diri kepada Tuhan yang menguasai manusia, adalah suatu penegasan sikap. Ia menjadi pelajaran bagi manusia bahwa dzat yang paling kuasa dimintai perlindungan hanya Allah saja, Tuhan seluruh umat manusia, Tuhan yang menguasai nasibnya, Yang kuasa mencegah dan mendatangkan bencana. Tuhan memberi manfaat dan mudharat, yang menurunkan nikmat dan mencabutnya. dalam ayat tersebut tidak ditegaskan nama Tuhan yang dimaksud, tetapi secara maknawi sudah menunjukkan bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Allah SWT.

Raja Manusia

Di dunia ini banyak sekali penguasa yang mengangkat diri atau dinobatkan menjadi raja. tetapi kekuasaan wilayahnya terbatas hanya mencakup bangsa tertentu dan umat tertentu pula. Raja seperti ini cepat atau lambat pasti akan mengalami turun tahta, mungkin karena kematian atau sebab-sebab lain. tidak seorang raja di dunia ini yang menghendaki turun tahta, namun batas kemampuannya mempersempit kekuasaaannya untuk bisa bertahan lama, karena kekuasaaannya itu tidak mampu takdir yang berlaku atas dirinya sendiri. Inilah letak kelemahan asasi yang pasti menimpa semua penguasa atau raja berkuasa di dunia ini.

Tidak demikian bagi Allah. Sebagai Tuhan yang mutlak Maha Menguasai, justru menjadi sumber inspirasi kekuataan mahluk-Nya. Dialah yang mengangkat, memberi dan menetapkan bagi seorang hamba, dan Dia pula yang mencopot, menurunkan dan menjatuhkan kekuasaan mereka. Bila Allah mengangkat seseorang untuk diberi kekuasaan tertinggi tiada kekuatan lain yang dapat menggagalkannya. Sebaliknya bila Allah untuk menjatuhkan atau mencopot kekuasaan seseorang tidak ada seorangpun tidak ada kekuatan apapun yang sanggup mempertahankannya.

Firman Allah didalam Al-Quran surat Ali Imran:26 yang artinya : "Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada yang engkau kehendaki, dan engkau mencabut kerajaan yang engkau kehendaki. Engkau memuliakan orang yang hendak engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki, ditangan engkau segala kebaikan. Sesungguhnya engkau Maha kuasa atas segala sesuatu".

Sembahan Manusia

Al Illaah artinya adalah sembahan. Illahin naas berarti sembahan manusia, yaitu Tuhan yang di jadikan sembahan mereka. menyembah Tuhan berarti mengabdi kepada-Nya. mengabdi kepada Tuhan berarti mengikuti segala perintah dan larangan-Nya. Banyak sekali di dunia ini sesembahan manusia dan dijadikan tempat pengabdian mereka, ada sifat material maupun imaterial, yang bersifat material misalnya patung, jabatan dan kedudukan. Sedangkan yang bersifat imaterial bisa berupa nafsu atau keinginan-keinginan lain yang bertentangan dengan penciptaan-Nya.

Watak manusia tidak mungkin bisa meninggalkan keyakinan kepada Tuhan kadang mudah terpola melalui bisikan hatinya untuk mengangkat suatu dzat kemudian dipertuhankan. Bila sudah demikian maka dirinya akan memperlakukan dzat secara sakral, meski dzat tersebut tidak mempunyai manfaat apa-apa dalam membawa manfaat atau mudharat.

Hal ini menalari munculnya animisme atau dinamisme.

Sehubungan dengan hal tersebut, Islam meletakkan ketuhanan secara tegas, bahwa hanyalah Allah yang berhak disembah, dialah Tuhan seluruh manusia tanpa kecuali.

Komentar