banner dakwahyu
dakwahyu.com - Kandungan Surat An-naas (2)
Islami

Kandungan Surat An-naas (2)

Oleh Lukman Firdaus pada 30 March 2015

Artikel lanjutan dari http://dakwahyu.com/detail/kandungan-surat-annaas-(1).

4. Dari kejahatan setan yang bersembunyi

Permohonan permintaan ini dikatakan secara konkrit berupa gangguan dan godaan setan. Godaan setan adalah sebagai wujud dari janjinya sendiri yang pernah di ikrarkan di hadapan Allah, menyusul pengusirannya dari surga

Allah melalui jalan apapun yang dipandang tepat disitulah setan menjalankan tipu daya untuk menjerat dan menyesatkan manusia. tipu daya untuk menyesatkan manusia ini tidak hanya melalui jalan kemaksiatan saja, bahkan tidak jarang melalui jalan kebaikan yang di pandang sebagai ketaatan.
Dalam menjalankan tipu daya untuk menjerumuskan manusia, setan dapat merubah keburukan menjadi perkara yang baik dan indah, maka bagi manusia yang tidak memiliki kemampuan ma'rifat akan memandang semua kebaikan itu bagus, sekalipun perkara itu tidak baik untuknya, kebaikan tersebut mungkin terletak pelaksanaanya, atau tercemari perkara lain yang di benci Allah.

Ketidak mampuan manusia untuk mengantisipasi penyusupan setan masuk ke dalam dirinya, memaksa untuk memohon perlindungan kepada Allah.

Sebab penyusupan setan ke dalam diri manusia itu sangat halus dan tidak terasa, bagaikan jalannya darah.
maka termasuk suatu kesombongan bila seseorang berkata bahwa dirinya sanggup mengantisipasi ancaman setan dari penyesatan.

5. Yang membisikkan(kejahatan) ke dalam dada manusia.

Makhluk yang bernama setan yang sering di gambarkan memiliki belalai setiap tindakannya langsung menjurus ke dada manusia. Bila belalai setan ini telah menancap ke dada manusia maka dirinya akan terbuai dan lalai di bawah pengaruh nafsu setan. Dirinya tidak akan selamat sehingga Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepadanya.

Kata "shudur" terambil dari "shadrun" yang berarti dada. Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa setan membisikkan kejahatan ke dalam dada. Kalimat tersebut merupakan kata kiasan dari hati. Sama halnya ketika Nabi Muhammad SAW. mengatakan : Haa huda at-taqwaa wayusyiiru ila shadrihi. "Taqwa terletak disisi", sabda beliau  sambil menunjuk ke dada. Jadi bukan dada itu yang menjadi ketaqwaan tetapi "hati". Demikian pula bukan dada yang menjadi bisikan setan melainkan "hati" yang menjadi sasarannya.

6. Dari jin dan manusia.

Dalam ayat keenam ini Allah menjelaskan bahwa usaha penyesatan yang dibisikan setan itu bukan saja berasal dari setan sebagai mahluk yang kasat(tidak tampak). atau suatu mahluk yang diterangkan berasal dari keluarga yang(bergenetika)jin, namun dilakukan oleh manusia sebagai mahluk yang tidak kasat. khusus yang terakhir ini perannya dikerjakan oleh manusia yang sistem kesadarannya telah dikuasai setan.
Atau dengan kata lain, jasmani atau raganya berwujud manusia akan tetapi hatinya berhati setan. Jenis manusia seperti ini keberadaanya selalu dipenuhi aktivitas untuk menciptakan keresahan antar manusia, misalnya menebar kedengkian, iri, kemaksiatan, bujukan ke arah kejahatan dan sebagainya. maka untuk menghindari tipu daya kejahatan setan berbentuk jin dan manusia, kita diperintah supaya berlindung kepada Allah. Karena hanya Allah sajalah yang kuasa yang kuasa membebaskan setiap bisikan kejahatan dari diri manusia.

Komentar