banner dakwahyu
dakwahyu.com - Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Hikmah

Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Oleh Lukman Firdaus pada 18 January 2016

       Kalau kita membicarakan penghidupan dunia, mata dan hati kita terus menoleh kepada penghidupan dunia, karena harta dan benda itu memang pokok bagi penghidupan dunia, karena itu amat penting membicarakan penghidupan dunia disini, yang kita semua berada di dalamnya dengan pembicaraan yang agak luas. bagaimana pendirian islam terhadap penghidupan dunia? betulkah paham orang mengatakan, Agama islma membenci dunia dan hanya agama akhirat semata? sebaliknya ada pula yang berpendapat agama islam adalah agama dunia bukan agama akhirat. yang lainnya mengatakan dunia untuk orang kafir dan akhirat untuk kaum muslimin.

untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan menghilangkan keragu-raguan, maka saya membicarakan hal ini dalam segala seginya. mula-mula ditilik dari jurusan hukum islam, kemudian di tinjau dari sudut falsafah dan hikmah, kemudian di bandingkan dengan kejadian yang telah lalu dan sedang berlaku di kalangan manusia.

untuk membuka pasal ini. lebih dahulu kita membawakan ayat yang berkenaan dengan penghidupan dunia, kemudian saya tafsirkan satu persatu maksudnya; sesudah itu, barulah saya bawakan beberapa paham dan pendapat ahli-ahli falsafah dan ahli hikmat. "tidaklah penghidupan dunia ini, melainkan melalaikan dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang yang berbakti. tidaklah kamu fikirkan ?" ( Al-an'am : 32 ) "la'ibun" artinya permainan. Maksud permainan disini, ialah sesuatu perbuatan yang dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh, untuk menghasilkan sesuatu kemanfaatan atau untuk menolak suatu kesusahan, sebagaimana permainan yang biasa dilakukan kebanyakan kanak-kanak, yang dengan permainan itu mereka bersuka-ria dan bersenang-senang.

tetapi tidak dinamakan "la'ibun" atau permainan kalau umpamanya anak-anak itu hendak mencoba memecahkan batu-batu kerikil atau membuka tutup tempat makanan, supaya dapat dia mengambil makanan yang ada didalamnya untuk dimakan. "Lahwun" artinya kelalaian. maksud kelalaian disini adalah apa-apa yang dilalaikan orang daripada menunakan kewajiban atau kepentingan. ayat ini menjadi bantahan keras terhadap orang-orang kafir yang menganggap dan mengatakan, bahwa tidak ada kehidupan akhirat dan kehidupan setelah mati.

dalam ayat ini dinyatakan, bahwa penghidupan dunia, yang di anggap orang-orang kafir, tidak ada penghidupan yang lainnya itu, adalah permainan dan kelalaian, yang tidak sedikit juga kebaikan dan manfaat yang mengiringinya sesudah itu bagi mereka ada pula ahli tafsir mengatakan, bahwa kehidupan dunia ini beredar diantara dua amal yaitu amal yang tidak berguna dan tidak berfaidah kelaknya dan amal yang berguna tetapi lekas hilang.

amal yang tidak ada guna dan tidak ada faidahnya itu sebagai permainan kanak-kanak karena sesudah mereka bermain maka perimainan itu tidak berguna lagi bagi mereka, amal yang berfaidah tetapi lekas hilang dan lenyap itu, adalah sebagai perbuatan yang melalaikan, karena tidak dikerjakan kelalaian itu. melainkan untuk menghilangkan duka cita dan kesusahan hati.

kalau duka cita dan kesusahaan hati telah hilang, maka orang tidak perlu lagi kepadanya. tegasnya kelezatan dan ketenangan kehidupan dunia itu lekas lenyap dan akan hilang. karena dilakukan hanyalah untuk menghilangkan kesusahan belaka. seumpama lezat dan sedap makan itu tidak lain melainkan untuk menghilangkan lapar. sekedar lapar yang ada pada seseorang. maka sekedar itu juga keperluannya kepada makan. kalau lapar sudah tidak ada lagi padanya. maka kelezatan makan akan hilang dengan sendirinya. begitu pula lezat dan nikmat minum hanya untuk menghilangkan dahaga dan haus. sekedar adanya haus dan dahaga seseorang, maka sekedar itu juga kebutuhannya kepada minum. kalau dahaga dan hausnya sudah tidak ada lagi padanya, maka nikmat dan lezat minum akan hilang dengan sendirinya dengan ini nyatalah kehidupan dunia itu adalah kesenangan yang sedikit masanya sebentar, tidak kekal tetapi akan binasa, belum puas lagi orang merasakannya, kesenangan itu sudah hilang dari padanya atau dia sendiri meninggalkan kesenangan hidup itu.

maka orang yang berakal yang cerdik-pandai, yang insyaf dan sadar yang tahu membedakan buruk dan baik, tidak patut tertipu oleh kesenangan dunia sehingga lalai menunaikan kewajiban lengah menyiapkan bekal untuk negeri akhirat.

Komentar