banner dakwahyu
dakwahyu.com - Nabi Muhammad SAW Berdagang (1) .Awal Pertemuan dengan Khadijah.
Kisah

Nabi Muhammad SAW Berdagang (1) .Awal Pertemuan dengan Khadijah.

Oleh YukSalingMengigatkan pada 21 March 2016

Tidak ada pekerjaan tetap yang digeluti Muhammad SAW. 
Beberapa riwayat mengisahkan beliau bekerja sebagai pengembala kambing. Abu Hurairah meriwayatkan suatu hari,

Nabi SAW berkata, "Tidaklah Allah SWT mengutus seorang nabi, melainkan dia pernah mengembala domba".
Para sahabat bertanya, "Engkau juga wahai Rosulullah?"
                "Benar," jawab beliau.
                "dulu aku mengembala domba milik penduduk Makkah dengan imbalan beberapa qirath".

Meski tidak punya pekerjaan tetap,Muhammad di kenal sebagai pemuda yang berakhlak mulia: jujur, amanah, santun dan bersahaja. Setiap pekerjaan yang dilakoninya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Kemuliaan akhlak Muhammad itu terdengar di telinga Khadijah binti Khuwalid. Ia adalah seorang wanita pedagang yang memiliki banyak harta dan bernasab baik. Dia membayar banyak kaum lelaki untuk berdagang dengan sistem bagi hasil.
              Khadijah pun megutus seseorang untuk mengajak Muhammad berniaga ke negri syam. Tawaran itu diterima Muhammad. Ia bergegas berangkat menemui Khadijah.
              Muhammad tiba di rumah Khadijah. Muhammad mengucapkan salam dan  meminta izin kepada Khadijah untuk masuk. Sebuah percakapan pun terjadi. Khadijah langsung berbicara ke inti persoalan.
              “Aku sedang butuh orang untuk menjual barang daganganku ke negeri Syam. Aku butuh orang yang jujur,dapat dipercaya. Aku tahu,engkau orang yang jujur dan dapat diandalkan. Aku yakin engkau adalah orang yang tepat, karenanya aku tawarkan pekerjaan ini kepadamu,” kata khadijah. Ia berjanji akan memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan saudagar lainnya.
              Muhammad langsung menerima tawaran itu. Persiapan keberangkatan pun dilakukan. Khadijah meminta pelayan terbaiknya, Maisarah, sebagai asisten Muhammad. Tak lupa Khadijah membisikan sesuatu kepada Maisarah. “Kau jangan membangkang pada Muhammad. Lakukan apa yang diinginkannya. Engkau juga harus mengamatinya sepanjang perjalanan. Ketika pulang, laporkan apa yang engkau lihat kepadaku, ” bisik Khadijah.

              Waktu kepergian tiba. Hampir seluruh sanak saudara Muhammad berkumpul untuk melepas keberangkatannya. Perjalanan itu akan panjang. Itu artinya mereka tak dapat berjumpa dengan Muhammad dalam waktu yang lama. Muhammad bersama Maisarah kemudian bertolak dalam sebuah kafilah menuju Syam. Hari berganti hari. Siang silih berganti dengan malam mengiringi perjalan. Maisarah melakukan apapun agar Muhammad merasa nyaman.

Di Bawah Pohon

Tepat pada bulan ketiga, mereka tiba di Basra, tidak jauh dari Syam. Sebuah perayaan besar sedang berlangsung. Barang dagangan digelar oleh para musafir diatas permadani. Muhammad melepas lelah di bawah pohon besar, tidak jauh dari kuil seorang rahib.
Tanpa sepengetahuan Muhammad, Nasthura, seorang pendeta, mengamati gerak-gerik Muhammad. Ia kemudian menghampiri Maisarah, “Siapa yang berteduh di bawah pohon itu?” Tanya Nasthura.
                “Orang Quraisy dari Makkah,” Maisarah menjawab.
                “Tidak seorang pun berteduh dibawah pohon  itu, melainkan dia seorang nabi,” kata Nasthura. Maisarah tercengang mendengarnya. Belum habis rasa terkejut Maisarah, Nasthura kembali mengulanginya. “Ia adalah Nabi terakhir”. Perasaan Maisrah campur aduk: gembira, senang, terkejut dan gelisah. Sebuah rahasia besar ada digenggamannya. Ia beruntung dapat mendampingi seorang pemuda yang kelak akan menjadi Nabi.


Awan Megiringi Muhammad

Perjalan dilanjutakan. Muhammad dan kafilahnya tiba di Syam. Beliau menjual barang dagangan yang di bawanya, dan membeli produk Syam untuk di jual di Makkah. Setelah empat tahun di Syam, kafilah dagang itu begegas kembali ke Makkah.
              Di siang hari, cuaca panas seperti memanggang rombongan. Kulit kepala meraka seperti terbakar. Kulit tubuh bercucuran keringat. Mereka tidak kuasa menahan pangganan matahari. Saat itulah Maisarah menyaksikan mukjizat.
              Segumpal awan terus menaungi Muhammad dan rombongan, kemana pun mereka bergerak. Awan it uterus berarak meneduhi Muhammad sepanjang perjalan, seolah diperintahkan untuk mengikutinya. Hanya Maisarah yang melihat keajaiban itu. Para Musafir lainnya tidak ada yang tahu. Pemandangan menakjubkan itu membuat Maisarah kian yakin dengan apa yang diucapakan pendeta Nasthura bahwa Muhammad adalah nabi terakhir.
              Setibanya di Makkah, Muhammad langsung menuju kediaman Khadijah. Sesampainya ia disana, ia menyetorkan modal dan keuntungan kepada Khadijah. Kemudian Muhammad menjual barang dagangan yang beliau beli di Syam. Muhammad mendapat keuntungan lebih atas perniagaannya itu. Khadijah terlihat gembira denga usaha Muhammad muda. Tidak sia-sia ia memberikan kepercayaan kepada Muhammad.
              Muhammad segera kembali ke rumahnya. Saat itulah Maisarah menuturkan kepada Khadijah beragam peristiwa yang terjadi saat mendampingi Muhammad berdagang. Maisarah mengisahkan pertemuannya dengan seorang pendeta dan apa yang dikatakan sang pendeta tentang Muhammad. Dia menuturkan pula tentang awan yang menaungi Muhammad selama dalam perjalanan. Khadijah mendengarkannya dengan penuh perhatian seolah tak ingin melewatkan sedikit pun informasi tentang Muhammad.

 

Next Post . . . Menikah Dengan Khadijah

 

Sumber : Buku THE GREAT STORY of MUHAMMAD Sollallaahu’alaihiWasallam.

Komentar