banner dakwahyu
dakwahyu.com - Perang Bani Quraizhah
Kisah

Perang Bani Quraizhah

Oleh davi pada 20 January 2015

Pertempuran sengit antara kaum muslimin melawan koalisi pasukan kafir Quraisy telah selesai, yang pada
akhirnya kemenangan berada di tangan umat Islam. Akan tetapi permasalahan yang dihadapi Rasulullah dan para
sahabatnya belum selesai sampai di sini.


Tatkala Perang Ahzab terjadi, komunitas Yahudi Bani Quraizhah, yang seharusnya membela dan
mempertahankan kota Madinah dari serangan pasukan Ahzab (koalisi kafir) bersama-sama kaum Muslim, malah
berbalik membantu musuh.


Allah berkehendak lain, pasukan Ahzab yang telah mengepung kota Madinah pada akhirnya tercerai-berai disapu
hujan dan angin dingin. Persekutuan mereka berantakan akibat rumor yang secara sengaja ditiupkan oleh Nu‘aim
bin Mas‘ud (yang baru masuk Islam waktu itu). Pasukan koalisi kembali ke negeri mereka masing-masing, tinggal
Yahudi Bani Quraizhah yang berharap-harap cemas atas nasibnya, karena mereka tinggal tidak jauh dari Madinah.
Persekongkolan mereka dalam bentuk pelanggaran perjanjian dengan Rasulullah telah terbongkar. Mereka telah
mencampakkan Watsîqah(Piagam) Madinah, yang mengharuskan mereka untuk tidak bersekutu dan membantu
musuh dari kaum Muslim.


Rasulullah dan kaum Muslim kembali ke Madinah, lalu meletakkan persenjataan mereka. Akan tetapi, pada waktu
zuhur, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dan berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah menyuruhmu
berangkat menuju Bani Quraizhah. Aku juga akan pergi untuk mengguncang mereka.”


Maka, Rasulullah memerintahkan seorang mu'adzin agar berseru kepada orang-orang, “Siapa yang tunduk dan
patuh, maka janganlah sekali-kali mendirikan shalat ashar kecuali di Bani Quraizhah.”


Beliau pergi di tengah prosesi Muhajirin dan Anshar, hingga tiba di salah satu pangkalan air milik Bani Quraizhah,
yang disebut Bi'r Anna. Orang-orang Muslim melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah Secara
berkelompok-berkelompok mereka berangkat menuju Bani Quraizhah.


Saat tiba waktu shalat ashar, sebagian dari mereka berkata, “Kami tidak mendirikan shalat ashar kecuali
setelah tiba di Bani Quraizhah, seperti yang diperintahkan kepada kami.” Hingga ada sebagian mereka
yang shalat ashar ketika sudah masuk waktu isya'. Sebagian yang lain sudah mendirikan shalat ashar di
tengah perjalanan ketika waktu ashar telah tiba. Mereka memahami perintah Rasulullah adalah sebagai
anjuran untuk mempercepat perjalanan. Akan tetapi keduanya ini tidak menjadi permasalahan
.


Pasukan yang baru kembali dari medan Perang Khandaq segera berangkat menuju perkampungan Bani Quraizhah. Rasulullah melakukan pengepungan terhadap Bani Quraizhah selama 25 malam hingga mereka
menderita. Allah memasukkan ketakutan ke dalam hati mereka

.
Tiga Penawaran


Tatkala Bani Quraizhah yakin bahwa Rasulullah tidak akan meninggalkan pengepungannya sampai mengalahkan
mereka, maka Ka‘ab bin Asad berkata kepada kaumnya, “Hai orang-orang Yahudi, kalian telah merasakan
penderitaan sebagaimana yang kalian alami. Oleh karena itu, aku mengajukan tiga buah penawaran kepada
kalian. Silakan kalian ambil pilihan tersebut sebagaimana yang diinginkan.”


Mereka menjawab, “Apa gerangan tiga buah penawaran tersebut?”


Ka‘ab bin Asad berkata, “Ketiga tawaran itu adalah, kita mengikuti Muhammad dan membenarkannya. Demi
Allah, sungguh sudah amat jelas di hadapan kalian bahwa dia itu adalah Rasul, dan kalian mendapati namanya
tertulis di dalam kitab kalian. Dengan begitu, kalian akan memperoleh keamanan atas darah, kekayaan, anak-anak
dan wanita-wanita kalian.”


Mereka menukas, “Kita tidak akan meninggalkan kitab Taurat selama-lamanya dan tidak akan menggantinya
dengan kitab yang lain.”


Ka‘ab bin Asad berkata lagi, “Apabila kalian menolak tawaran pertama, mari kita bunuh anak-anak dan
wanita-wanita kita, kemudian kaum laki-laki kita keluar menghadapi Muhammad dan para sahabatnya dengan
membawa persenjataan lengkap tanpa meninggalkan beban berat (yakni anak-anak dan kaum wanita) di rumah
hingga Allah menyelesaikan perkara kita dengan mereka. Jika kita terbunuh, kita terbunuh tanpa meninggalkan
keturunan di rumah yang kita khawatirkan keselamatannya. Jika kita meraih kemenangan, aku bersumpah bahwa
kita akan memperoleh wanita dan anak-anak lagi.”

Mereka bertanya, “Apa memang kita harus membunuh anak-anak dan kaum wanita yang mestinya kita kasihani?
Apa artinya kehidupan yang nikmat tanpa kehadiran mereka?”


Ka‘ab bin Asad berkata, “Apabila kalian tidak mau juga menerima tawaran yang kedua, malam ini adalah malam
Sabtu, mudah-mudahan Muhammad dan para sahabatnya memberikan keamanan kepada kita. Lalu turunlah
kalian dari benteng-benteng, semoga kita memperoleh kesempatan atas lengahnya Muhammad dan para
sahabatnya, kemudian kita serang mereka secara tiba-tiba.”


Mereka berkata, “Kalau begitu, kita merusak (kesucian) hari Sabtu dan mengerjakan suatu perbuatan yang tidak
pernah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita, kecuali orang yang telah engkau ketahui, kemudian ia tertimpa
musibah yang engkau ketahui, yaitu kebinasaan.”


Ka‘ab bin Asad berkata, “Sungguh, tidak ada seorang pun dari kalian yang bersungguh-sungguh di dalam satu
malam pun sejak ia dilahirkan ibunya.”


Negosiasi antara Bani Quraizhah dan Rasulullah berlangsung singkat. Kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk
menyerahkan urusan (nasib) Yahudi Bani Quraizhah kepada Sa‘ad bin Mu‘adz. Saat itu kondisi Sa‘ad bin
Mu‘adz terluka parah akibat terkena panah pada Perang Khandaq.


Kaum Muslim pergi menuju Sa‘ad bin Mu‘adz dan berkata, “Wahai Abu Amr, sesungguhnya Rasulullah telah
mengangkatmu untuk memutuskan perkara-perkara yang menyangkut keluargamu.”


Sa‘ad berkata, “Terhadap persoalan tersebut kalian harus konsisten dengan janji Allah, bahwa hukum terhadap
mereka adalah sesuai dengan hukum yang aku putuskan.”
Mereka menjawab, “Ya.”
Sa‘ad bin Mu‘adz berkata lagi, “Kalian juga harus konsisten terhadap orang yang ada di sini.”
Ia berkata sambil menunjuk ke tempat Rasulullah Hal ini merupakan bentuk penghormatannya kepada beliau.
Rasulullah menjawab, “Ya.”
Sa‘ad berkata, “Mengenai Bani Quraizhah, aku memutuskan bahwa kaum lelaki mereka harus dibunuh, harta
kekayaan mereka dibagi-bagi, anak-anak dan kaum wanitanya menjadi tawanan (sabiy).”


Mendengar hal itu, Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sungguh, engkau telah memutuskan perkara mereka
dengan hukum Allah dari atas tujuh lapis langit.”


Setelah itu, orang-orang Yahudi Bani Quraizhah diperintahkan untuk keluar dari bentengnya. Kemudian Rasulullah
menahan mereka di Madinah, di rumah putri al-Harits, salah seorang wanita dari Bani an-Najjar. Rasulullah pergi
ke pasar Madinah, kemudian menggali parit di sana. Beliau memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah
untuk dibawa ke parit tersebut kelompok demi kelompok, termasuk Ka‘ab bin Asad tokoh Bani Quraidhah,
bersama-sama dengan 600 atau 700 orang Bani Quraizhah. Ada yang mengatakan jumlah mereka 800, bahkan
900 orang. Mereka seluruhnya dipenggal dan dikuburkan di dalam parit itu.


MANUVER-MANUVER MILITER SETELAH PERANG BANI QURAIZHAH


Terbunuhnya Sallam bin Abul-Huqaiq


Sallam bin Abul-Huqaiq yang juga biasa dipanggil Abu Rafi' termasuk tokoh penjahat Yahudi yang mendorong
pembentukan pasukan Ahzab untuk memerangi kaum Muslimin, juga mendukung mereka dengan bantuan harta
dan pasokan bahan makanan. Setelah orang-orang Muslim selesai mengangani urusan Bani Quraizhah,
orang-orang Khazraj meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuh Abu Rafi'. Karena sebelumnya orang-orang
Aus lah yang mendapatkan kehormatan dengan membunuh Ka'ab bin Al-Asyraf. Begitulah orang-orang Khazraj
yang juga ingin mendapatkan kehormatan dengan membunuh Abu Rafi'.


Rasulullah mengizinkan permintaan mereka dan melarang membunuh wanita dan anak-anak. Maka ada lima
orang di antara mereka yang semuanya berasal dari Bani Salamah dari Bani Khazraj, di bawah pimpinan Abdullah
bin Atik.


Singkat cerita, lima orang tersebut berangkat menuju benteng persembunyian Abu Rafi' di Khaibar. Kemudian
Abdullah bin Atik berhasil menyelinap masuk benteng sampai ke kediaman Abu Rafi', hingga Abdullah berhasil
menebas Abu Rafi' dengan pedangnya sampai mati. Ini berdasarkan riwayat dari Bukhari.


Sedangkan menurut riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa mereka berlima masuk ke tempat tinggal Abu Rafi' dan
secara bersama-sama menyerangnya, adapun yang membunuhnya adalah Abdullah bin Unais.


Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzul-Qa'idah atau Dzul-Hijjah 5 H. Seusai perang Ahzab dan Bani Quraizhah dan
membungkam para penjahat perang, beliau mengerahkan satuan-satuan pasukan untuk memberi pelajaran
kepada beberapa kabilah dan Arab badui, yang selama itu selalu mengganggu keamanan. Untuk itu beliau perlu
menghadapi mereka dengan kekuatan militer.


Satuan Pasukan Di Bawah Komando Muhammad bin Maslamah


Ini merupakan satuan pasukan yang dikirim pertama kali setelah perang Ahzab dan Bani Quraizhah. Jumlahnya
ada tiga puluh orang yang menunggang kendaraan.


Satuan ini bergerak ke arah Al-Quratha' di bilangan Dhariyah di Najd. Jarak antara Dhariyah dan Madinah bisa
ditempuh selama tujuh hari. Mereka pergi selama sepuluh hari dan tiba di perkampungan Bani Bakr bin Kilab. Saat
satuan pasukan Muslimin ini menyerbu tempat itu, mereka pun melarikan diri, sehingga orang-orang Muslim
mendapatkan rampasan berupa bitnatang ternak yang cukup banyak.


Mereka tiba di Madinah, dengan menawan Tsumamah bin Utsal Al-Hanafiy, pemimpin Bani Hanifah. Sebelum itu
dia pernah menolak bekerja sama dengan Musailamah Al-Kadzab untuk membunuh Nabi r Setiba di Madinah
mereka mengikatnya di salah satu tiang masjid.


Setelah beberapa saat, orang-orang Muslim melepasnya. Lalu Tsumamah pergi ke sebuah kebun korma tak jauh
dari masjid, lalu mandi dan kembali lagi untuk masuk Islam. Dia berkata, ”Demi Allah, sebelum ini tidak ada wajah
yang paling kubenci di muka bumi ini selain wajahmu. Kini wajah yang paling kucintai adalah wajahmu. Demi Allah,
sebelum ini tidak ada agama yang paling kubenci di muka bumi selain agamamu. Kini agama yang paling kucintai
adalah agamamu. Aku ingin naik kuda milik engkau karena aku ingin melaksanakan umrah.” Lalu beliau pun
memperkenankannya dan menyuruhnya melaksanakan umrah.


Perang Bani Lahyan


Bani Lahyan adalah yang pernah mengkhianati sepuluh sahabat dan membunuh mereka di Ar-Raji'. Karena
tempat mereka yang masuk wilayah Hijaz dan berbatasan dengan Makkah, maka Nabi r tidak berniat untuk
memasuki wilayah itu, karena posisi tempat mereka yang berdekatan dengan musuh terbesar. Ini terjadi sebelum
meletus peperangan antara kaum Muslimin dan Quraisy serta beberapa kabilah Arab lainnya. Tapi setelah mental
dan semangat pasukan musuh merosot serta membiarkan situasi berjalan serba mengambang tanpa ada
ujungnya, maka sudah tiba saatnya bagi beliau untuk melancarkan balasan terhadap Bani Lahyan atas kematian
para sahabat beliau di Ar-Raji'.


Pada bulan Rabi'ul-Awwal atau Jumadal-Ula 6 H, beliau pergi bersama dua ratus sahabat. Madinah diserahkan
kepada Ibnu Ummi Maktum. Beliau membuat kamuflase, seakan-akan kepergian kali ini hendak menuju Syam,
agar mereka lengah. Perjalanan dipercepat hingga tiba di Ghuran, suatu lembah yang terletak antara Amaj dan
Usfan. Disitulah dulu para sahabat beliau dibunuh. Hati beliau merasa trenyuh atas nasib mereka lalu mendoakan
mereka.


Bani Lahyan yang mendengar kedatangan beliau dan pasukan Muslimin, langsung melarikan diri ke
puncak-puncak gunung. Tak seorang pun di antara mereka yang bisa tertangkap. Beliau menetap di
perkampungan Bani Lahyan selama dua hari. Selama itu beliau mengutus beberapa orang untuk melakukan
pengejaran, namun hasilnya nihil. Lalu beliau pergi ke Usfan dan mengutus sepuluh orang penunggang kuda untuk
pergi ke Kura' Al-Ghamim untuk mencari informasi tentang keadaan orang-orang Quraisy. Setelah itu beliau
kembali lagi ke Madinah. Kepergian beliau ini selama empat belas hari.


Pengiriman Satuan-satuan Perang Berikutnya

Nama Satuan / Waktu
Kejadian
Jumlah Pasukan Kejadian Ringkas
Satuan Ukkasyah bin
Mihshan/ Rabi'ul Awwal
6 H
Ukkasyah bersama 40
orang
Satuan ini pergi ke Al-Ghamir,
sebuah pangkalan air Bani Asad.
Musuh kabur, pasukan Muslim
mendapat rampasan 200 ekor onta,
lalu dibawa ke Madinah
Satuan Muhammad bin
Maslamah/
Rabi'ul-Awwal atau
Rabi'ul-Akhir

Beliau pergi ke
Dzil-Qashshas bersama 10 orang

Memasuki perkampungan Bani
Tsa'labahdan membunuh 100 orang
dari mereka yang sedang tidur. Tapi
sebagian rekan Maslamah ada yang
mendapat luka.
Satuan Abu Ubaidah
bin Al-Jarah/
Rabi'ul-Akhir 6 H.
Beliau pergi ke
Dzil-Qashashbersama
40 orang
Abu Ubaidah dan pasukannya
menyerang Bani Tsa'labahsehingga
mereka lari ke puncak gunung.
Mereka menawan salah seorang dari
mereka, lalu dia masuk Islam.
Rampasan hewan ternak cukup
banyak.
Satuan Zaid bin
Haritsah/ Rabi'ul-Akhir
6 H.
Zaid dan pasukannya
pergi ke Al-Janum
Al-Janumadalah pangkalan air milik
Bani Sulaimdi bilangan Marr
Azh-Zhahran. Seorang wanita dari
Muzainahyang bernama Halimah
menunjukkan tempat Bani Sulaim.
Satuan Zaid bin
Haritsah/ Jumadil-Ula 6 H.
Bersama 170 orang
pengendara menuju Al-Ish

Pasukan ini merampas kafilah dagang
Quraisy yang dipimpin Abul-Ash,menantu Rasulullah. Zainab
memohon untuk dikembalikan
rampasan itu, Rasulullah menerima
permintaan itu. Abul-Ash kemudian
masuk Islam.

Satuan Zaid bin
Haritsah/
Jumadil-Akhirah 6 H.
Bersama 15 orang
menuju Bani Tsa'labah
Melihat kedatangan pasukan Muslim,
Bani Tsa'labah melarikan diri, karena
takut yang datang Rasulullah.
Pasukan Zaid mendapat rampasan 20
ekor onta dan kembali ke Madinah
setelah 4 hari.
Satuan Zaid bin
Haritsah/ Rajab 6 H.
Bersama 12 orang
menuju Wadil-Qura
Tujuannya untuk mencari informasi
tentang kemungkinan gerakan musuh
di sana. Penduduk Wadil-Qura
menyerang pasukan Muslimin hingga
ada 9orang terbunuh dan 3orang
berhasil lolos, Zaid termasuk yang
lolos.
Satuan Pasukan
Al-Khabthu / Rajab 8 H.,
ada yang meyebut
setelah Hudaibiyah
Sebanyak 300
pengendara, dipimpin
Abu Ubaidah bin
Al-Jarah
Tujuannya mengintai kafilah dagang
Quraisy. Disebut Al-Khabtukarena
pasukan kelaparan dan memakan
pasir (khabtu).


*Diringkas dari kitab ar-Rahiqul Makhtum, Sofiyyur Rahman Al-Mubarokfury

Komentar