banner dakwahyu
dakwahyu.com - Perkembangan Islam di Nusantara
Kolom

Perkembangan Islam di Nusantara

Oleh Lukman Firdaus pada 16 February 2015

Kembali ke masalah waktu masukknya dan perkembangan agama islam di Nusantara Indonesia. Kalau diperhatikan, kesultanan Samudra Pasai di Sumatra didirakan pada 1275 M dan menurut Prof. H. Muhammad Yamin, Keradjaan Hindoe Madjapahit didirikan pada 1294 M. Maka terjadi selisih waktu 19 tahun, kesultanan Samudra Pasai lebih awal berdiri pada Keradjaan Madjapahit. Dengan demikian, apakah dapat dibenarkan pendapat yang menyatakan agama Islam baru masuk ke Nusantara sesudah keruntuhan Keradjaan Hindoe Madjapahit, 1478 M ?


Nampaknya belum ada kesamaan paham antara apa yang dimaksud dengan saat agama Islam masuk dan saat perkembangan agama Islam. Padahal, kedua hal tersebut jauh berbeda pengertiannya.
Masuknya agama Islam adalah ketika agama Islam baru dikenal oleh bangsa Indonesia dikenalan oleh para niagawan Muslim pada saat melakukan transaksi niaga di pasar. Seperti halnya dengan awal masuknya agama Hindoe atau dengan Buddha, pada saat itu penganut Hindoe dan Buddha belum membangun kekuasaan politik atau Keradjaan Hindoe dan Buddha.

Jadi, pada saat masyarakat Hindoe dan Buddha telah membangun Keradjaan Hindoe dan Buddha, misalnya Keradjaan Hindoe Taroemanegara, Padjajaran, Madjapahit dan umat Buddha membangun kekuasaan politik atau Keradjaan Buddha Sriwidjaja, saat tersebut disebut masa perkembangan bukan saat masuknya kedua agama tersebut.

Demikian pula apa yang dimaksud dengan perkembangan agama Islam adalah pada saat umat Islam telah membangun kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Misalnya Kesoeltanan Leran di Gresik Jawa Timur pada abad ke-11 M dan kesultanan Samudra Pasai di Sumatra Utara pada abad ke-13 M.
Perlu diakui, adanya Radja Hindoe melakukan konversi agama menjadi penganut Islam. Pada saat itu, sekaligus terjadi pembentukan kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Istilah Keradjaan berubah pula menjadi Kesoeltanan. Tidak lagi disebut raja melaikan sebagai sultan. Raja tersebut tidak kehilangan kekuasaannya dan tetap diakui oleh mayoritas rakyatnya sebagai sultan yang sah. Peristiwa ini menurut J.C. van Leur terjadi karena political motive.

Motif politik atau motivasi kekuasaan yang diwujudkan dengan konversi agama masuk ke Islam sebagai bukti atau pengakuan para raja saat itu bahwa Islam telah menjadi arus bawah yang kuat dan berpengaruh besar terhadap proses penyuburan tanah atau lapisan masyarakat bawah. Dampaknya membentuk para penguasa saat itu untuk menyelamatkan diri dari bencana banjir imperialis Barat kecuali dengan berpihak kepada agamanya rakyat, yakni Islam.

Dengan kata lain, dorongan konversinya bertolak dari motivasi mempertahankan kepentingan kekuasaannya. Hal ini terjadi akibat mayoritas rakyatnya telah menganut agama Islam terlebih dahulu daripada rajanya. Seperti telah dibicarakan sebelumnya dampak dari aajran agama Islam tidak mengenal adanya kasta. Oleh karena itu, Islam dinilai sebagai agama pembebas oleh rakyat. Terlepas dari sistem stratifikasi sosial berdasarkan keturunan atau darah yang didasarkan ajaran agama Hindoe.

Pada umumnya, untuk mempermudah menjawab pertanyaan kapan agama Islam masuk pada suatu wilayah: Ambon, Irian Jaya atau Papua dan pulau-pulau lainnya, para sejarawan sering menjawab pada saat rajanya masuk Islam. Padahal, Islam masuk jauh lebih awal di kalangan rakyat daripada saat rajanya masuk Islam.

Tumbuhnya kekuasaan politik Islam di Nusantara Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sebab timbulnya kekuasaan politik luar Indonesia. Tumbuhnya kekuasaan politik Islam di Timur Tengah: Khulafaur Rasyidin, Umayah, Abbasyiah, dan fathimiyah serta kesultanan Turki, diikuti dengan runtuhnya pengaruh Hindoe dan Buddha di India dan timbulnya kekuasaan politik Islam di India oleh Mongol dan Moghul.
Kemudian timbul kerjasama antara Abbasyiah, Khilafah Hisyam dengan Kaisar Hsuan Tsung, timbulnya kekuasaan politik islam dibangun oleh Kaisar Genghis Khan besar pengaruhnya terhadap erubahan kebijakan politik Kaisar Khubilai Khan dan Kaisar Ming di Cina yang berpihak pada Islam.

Selain itu pengaruhnya dijadikan Yunan sebagai salah satu provinsi Cina dengan mayorita penduduk beragama Islam. Juga berpengaruh terhadap pertumbuhan Masjid di Peking atau di daerah luarnya yang semakin banyak Pengaruhnya di Nusantara Indonesia mendorong meluasnya kekuasaan politik Islam dan pertumbuhan Masjid, pesantren serta pasar di dalam dan di luar Pulau Jawa.

 

Komentar