banner dakwahyu
dakwahyu.com - Tips Agar Tetap Istiqomah
Islami

Tips Agar Tetap Istiqomah

Oleh Ricko pada 31 March 2016

Dalam kehidupan yang semakin modern dan berkembang, kita dihadapkan pada fakta fatamorgana, dimana sesuatu yang baik dan benar dianggap asing dan dipandang miring. Maka kewajiban setiap umat islam beristiqomah untuk menjaga amalan-amalan wajib maupun sunnah. Melaksanakan semua perintah Allah SWT. dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangannya sejauh-jauhnya. Karena kita tahu bahwasannya maut dapat menjemput kita kapan saja. 

Keutamaan Orang yang Bisa Terus Istiqomah

Istiqomah adalah menempuh jalan(agama) yang lurus(benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencangkup pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah SWT. lahir dan batin, serta meninggalkan semua larangan-Nya. Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.

Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta'ala, 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ 

Artinya "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:"Rabb kami ialah Allah."kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu"."(Q.S Fushilat:30) 

Yang dimaksud dengan istiqomah di sini terdapat tiga pendapat di kalangan ahli tafsir:

  1. Istiqomah di atas tauhid, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakr Ash Shidiq dan Mujaid.
  2. Istiqomah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu 'Abbas, Al Hasan dan Qotadah,
  3. Istiqomah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput, sebagaimana dikatakan oleh Abul 'Aliyah dan As Sudi. Dan sebenarnya istiqomah bisa mencakup tiga tafsiran ini karena semuanya tidak saling bertentangan.

Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput " Janganlah takut dan janganlah bersedih". Mujahid, 'Ikrimah, dan Zaid bis Aslam menafsirkan ayat tersebut: "Janganlah takut pada akhirat yang akan kalian hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya." Begitu pula mereka diberi kabar gembira berupa surga yang dijanjikan. Dia akan mendapat berbagai macam kebaikan dan terlepas dari macam kejelekan. Zaid bis Aslam mengatakan bahwa kabar gembira di sini bukan hanya dikatakan ketika maut menjemput, namun juga ketika di alam kubur dan ketika hari berbangkit. Inilah yang menunjukan keutamaan seseorang yang bisa istiqomah. Al Hasan Al Bashri ketika membaca ayat di atas, ia pun berdo'a, "Allahumma anta robbuna, frzaqnal istiqomah(Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami. Berikanlah keistiqomahan pada kami.)."

Yang serupa dengan ayat di atas adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala, 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ, أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya " Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."(QS. Al Ahqaf:13-14).

Dari Abu 'Amr atau Abu 'Amrah Sufyan bin Abdillah, beliau berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ – وَفِى حَدِيثِ أَبِى أُسَامَةَ غَيْرَكَ –

قَالَ « قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ ».

Artinya: "Wahai Rasulullah shallalahu'alaihi wa sallam, ajarkanlah kepadaku dalam (agama) islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara islam sehingga) aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelahmu [dalam hadits Abu Usamah dikatakan ," setelah engkau"]. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Katakanlah: "Aku beriman kepada Allah", kemudian beristiqomahlah dalam ucapan itu." Ibnu Rajab mengatakan ,"Wasiat Nabi shallallahu'alaihi wa sallam  ini sudah mencakup wasiat dalam agama ini seluruhnya."

 Pasti Ada Kekurangan dalam Istiqomah

Ketika kita ingin berjalan di jalan yang lurus dan memenuhi tuntunan istiqomah, terkadang kita tegelincir dan tidak bisa istiqomah secara utuh. Lantas apa yang bisa menutupi kekurangan ini? Jawabnya adalah pada firman Allah Ta'ala.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

Artiny: "Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan memohonlah ampun kepada-Nya." (QS. Fushilat:6). Ayat ini memerintahkan untuk istiqomah sekaligus beristigfar (memohon ampun pada Allah).

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, "Ayat di atas "Istiqomahlah dan mintalah ampun kepada-Nya" merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqomah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istigfar (memohon ampunan Allah), Istigfar itu sendiri mengandung taubat dan istiqomah (di jalan yang lurus).

 

 

Komentar